Semester 4

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BIDANG ASTRONOMI YANG DI PELOPORI ISLAM

TUGAS

ILMU ALAMIAH DASAR

“PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BIDANG ASTRONOMI YANG DI PELOPORI ISLAM”

Disusun oleh  :

       Dea Tita Hastika          (20158300219)

 

Dosen Pengampu   :

Dr. Ani Marlina, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

STKIP KUSUMA NEGARA

JAKARTA

2017

Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Astronomi yang di pelopori Islam

 

Sejak abad ke-1 H/7 M sampai pada abad ke-7 H/13 M pusat perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia berada di Timur, sampai Barat wilayah Islam. Ke kota-kota inilah para cendekiawan datang untuk belajar atau berkonsultasi. Bagdad, Kordoba dan Kairo adalah kota-kota ke khalifahan Islam. Bagdad adalah tempat kedudukan dinasti Abassiyah (132 H/ 750 M – 656 H/ 1258 M), Kordoba ibu kota dinasti Umayyah Barat atau Spanyol (138 H/ 756 M – 422 H/ 1031 M) dan Kairo Ibu kota dinasti Fatimiyah (297 H/ 909 M – 567 H/ 1171 M). Bagdad, Kordoba, Kairo dan juga kota-kota lainnya berperan sebagai pusat pengkajian ilmu pengetahuan karena para khalifah dan sarjana-sarjana muslim adalah pencinta ilmu. Mereka tidak memusuhi ilmu pengetahuan bahkan berpendapat mempelajari ilmu pengetahuan adalah salah satu perintah agama.

Manusia telah begitu lama berkenalan dengan langit, ribuan tahun yang lalu. Kini aspek ilmu pengetahuan tentang langit terkumpul dalam cabang keilmuan astronomi. Astronomi dipahami sebagai cabang ilmu pengetahuan yang dikembangkan berbasis pengamatan. Objek langit yang dikaji dalam astronomi mencakup tata surya, seperti komet, bulan, meteor, matahari, planet dan asteroid, bisa juga dalam lingkup galaksi, bintang-bintang dan gugusan bintang.

Sedangkan dalam Ensiklopedi menyatakan bahwa astronomi adalah pengetahuan tentang benda langit dan alam semesta, merupakan salah satu cabang pengetahuan ekskta tertua. Satuan astronomi adalah jarak menengah antara matahari dan bumi, yaitu 150 juta kilometer. Satuan ini digunakan sebagai satuan panjang bagi ukuran di dalam tata surya. Tahun astronomi ialah jumlah tepat waktu yang diperlukan bumi mengelilingi matahari, dinyatakan dalam hari, jam, menit, dan sekon. Berbeda dengan waktu sipil, atau kelender, yang dinyatakan dengan bilangan bulat.

Dari berbagai pengertian, kemudian muncullah klasifikasi ilmu yang mengambil objek langit dan bintang. Yakni ilmu astronomi dan ilmu astrologi. Ilmu astronomi mempelajari benda-benda langit secara umum. Sedangkan ilmu astrologi yaitu ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh benda-benda langit itu terhadap kehidupan manusia, atau yang lebih dikenal dengan ilmu nujum.

Astronomi adalah suatu ilmu praktis bagi orang-rang Arab, sebagian karena mereka harus mengetahui arah Makkah dari setiap kota Islam, supaya bisa menghadap ke Ka’bah untuk melaksanakan sholat. Dalam astronomi seperti halnya dalam pengobatan banyak yang dihasilkan oleh bakat pengamatan yang sabar dan cermat serta observasi riset. Berkembangnya ilmu astronomi didorong oleh hasrat ingin tahu para ilmuan untuk mengetahui gejala ruang angkasa termasuk pergerakan tatasurya, tentunya seiring dengan perintah agama untuk mengkajinya. Tetapi juga peran khusus astronomi dalam kepentingan ritual agama seperti penentuan arah kiblat dan waktu solat, awal Ramadhan dan penetapan puasa-puasa lainnya, memberikan pengaruh tersendiri dalam perkembangan astronomi.

Tradisi keilmuan ini merupakan sintesa antara Babilonia, Arab kuno, Persia dan India sehingga memantapkan astronomi dengan pada tempat pergumulan mereka dalam melahirkan teori-teori astronomi sebagai dasar yang lebih luas dibanding sebelumnya. Ada banyak observatorium sebagai tempat pergumulan para ilmuan astronomi guna melahirkan teori-teori astronomi dan merancang istrumen untuk mendukung kerja ilmiah.

Dalam islam, ilmu astronomi dikenal sebagai ilmu falak. Secara leksikal kata falak berasal dari bahasa Arab yang berarti orbit atau garis edar, sedangkan ilmu falak berarti ilmu astronomi yaitu ilmu yang mempelajari tata matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lain yang bertujuan untuk mengetahui posisi benda langit agar waktu-waktu dipermukaan bumi dapat diketahui.

Setelah runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan, maka kiblat kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam (8 – 15 M). Salah satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol, Altair, Betelgeus dan Zubelnegubi.

Selain itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam sains yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan dari astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapai 10 ribu manuskrip.

Ahli sejarah sains, Donald Routledge Hill, membagi sejarah astronomi Islam ke dalam 4 periode.

  • Periode pertama (700 – 825 M)

Periode ini merupakan periode awal dimana buku-buku dan berbagai literatur diterjemahkan dari Yunani, India, dan Persia. Seorang pengembara India menyerahkan sebuah data buku astronomi yang berjudul Sindhind atau Sidhanta kepada kerajaan Islam di Baghdad pada tahun 773 M, yaitu Dinasti Abassiyah pada masa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Kemudian atas perintahnya, buku tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari, sehingga al-Fazari dikenal sebagai ahli astronomi pertama di dunia Islam. Buku lain yang diterjemahkan yaitu Zij al-Shah yang berasal dari Persia dan berisi tabel astronomi yang selama 2 abad digunakan oleh bangsa Persia. Kemudian ada Almagest karya Ptolemy (Claudius Ptolemaeus) dan termasuk semua buku yang berhubungan dengan alam semesta. Pada tahun 790 M al-Fazari menulis sebuah buku karangannya sendiri yang berjudul Zij al Sinin al-Arab yang memuat tabel astronomi berdasarkan tahun Arab. Inilah sebuah karya awal yang mengantarkan ilmu pengetahuan islam kepada masa kejayaannya.

  • Periode kedua (825 – 1025 M)

Khalifah al-Ma’mun dari dinasti Abassiyah adalah seorang pemimpin besar yang bijak dan sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan terutama astronomi, sehingga dana yang besar yang diberikannya untuk kemajuan ilmu astronomi Islam. Maka dari kota Baghdad lahirlah para astronom-astronom ternama yang jasanya sangat berpengaruh pada zaman mereka hingga sekarang. Pada masa ini, lahirlah keluarga astronom yang terkenal dengan nama Musa bersaudara dari Banu Musa bin Syakir. Banu Musa merupakan sebutan bagi tiga  orang kakak beradik yaitu Muhammad ibn Musa, Ahmad ibn Musa dan Hasan ibn Musa. Ayah mereka adalah Musa ibn Syakir yang juga seorang astronom hebat pada masanya. Ketika Musa ibn Shakir meninggal, Al-Ma’mun menjanjikan untuk memelihara dan menjaga anak-anaknya yang masih kecil. Kemudian anak-anak ini diserahkan kepada seorang ahli falak Yahya bin Abu Manshur sampai mencapai usia dewasa dan tumbuh menjadi seorang ahli falak. Al-Ma’mun menggunakan kumpulan dari ahli falak untuk meneropong bintang-bintang langit dan mencatat hasil teropong-teropong tersebut untuk mencari kebenaran temuan Ptolemaeus. Mereka menemukan titik terjauh matahari dari bumi dan mencoba menghitung keliling bumi yang berbentuk lingkaran dan keliling yang didapat sekitar 41.248 km.

Pada masa berikutnya lahirlah seorang matematikawan sekaligus astronom terkemuka bernama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. Ia menulis buku berjudul Zij al-Sindh yang merupakan buku astronomi Islam pertama yang memaparkan perhitungan matematika yang sangat baik pada masa itu. Buku ini menjelaskan tentang pergerakan matahari, bulan dan 5 buah planet yang mengelilingi bumi. Kemudian pada tahun 850 M, seorang ilmuan bernama al-Farghani menulis sebuah buku berjudul Kitab Fii Jawani yang mengoreksi kesalahan-kesalahan teori geosentris Ptolemy seperti sudut kemiringan gerhana, gerak matahari dan bulan ketika berada pada titik terjauh dari bumi dan ukuran keliling bumi. Selain itu, Abu Ma’syar adalah ahli falak yang menemukan adanya pasang naik dan pasang surut air laut sebagai akibat posisi bulan terhadap bumi.

Ahli astronomi Islam lainnya adalah al-Battani yang merupakan generasi penerus Al-Fargani dalam melakukan observasi-observasi astronomi pada sebuah observatorium yang dibangun oleh al-Ma’mun. Al-Batanni banyak mengoreksi perhitungan Ptolemy mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Ia juga merevisi orbit bulan dan planet-planet.

Pada abad ke-9, Muhammad ibn Musa menulis sebuah buku berjudul Astral Motion and the Force of Attraction (judul dalam Bahasa Arab tidak diketahui). Buku tersebut menjelaskan adanya gaya tarik-menarik antara benda yang satu dengan benda yang lainnya (merupakan cikal bakal hokum Gravitasi Newton). Di pihak lain, Ali ibn Yunus menemukan pendulum dan sundial (jam matahari, yaitu seperangkat alat yang digunakan untuk menunjukkan waktu berdasarkan pergerakan matahari di meridian. Pada tahun 964 M, Abdurrahman as-Sufi merupakan orang pertama yang merekam penelitian tentang galaksi Andromeda, galaksi terdekat dengan Galaksi Milky Way. Ia menyebut Galaksi Andromeda dengan sebutan “Small Cloud” (kabut kecil).

  • Periode ketiga (1025 – 1450 M), masa kemajuan sistem astronomi Islam.

Pada periode ini Ibnu al-Haytham menjadi pelopor ilmu astronomi yang penelitiannya berbasis teleskop. Pada abad ke-11 Ibnu al-Haytham menulis sebuah buku berjudul Al-Shuku ‘ala Batlamyus (Doubts on Ptolemy) yang berisi tentang kritikannya terhadap perhitungan Ptolemy, meski pada intinya ia masih sepakat dengan teori geosentris. Sementara itu, al-Biruni memperkenalkan sebuah perhitungan tentang percepatan gerak planet-planet dan pada tahun 1031 M al-Biruni menyusun sebuah ensiklopedi astronomi dan diberi judul Kitab al-Qanun al-Mas’udi yang memuat semua hasil penemuan astronomi yang dilakukannya dan merumuskan tabel astronomi. Diantara hasil penemuannya itu adalah pemodelan sistem geosentris yang akurat, pengukuran jarak bumi dan matahari dan gravitasi bumi. Sebagaimana perkataannya “Semua benda dipengaruhi oleh daya tarik yang menuju pusat bumi”.

Sekitar tahun 1300 M, Ibnu al-Syathir menulis Kitab Nihayat al-Sufi Tahih al-Usul (The Final Quest Concerning the Rectifiation of Principles). Dalam buku itu ia mereformasi sistem alam semesta Ptolemy dengan memasukkan episiklus tambahan. Perkembangan astronomi periode ini  berlanjut hingga Hulagu Khan mendirikan observatorium astronomi di Maragha. Setelah itu pada tahun 1420 M, Ulugh Beg yang juga seorang ahli matematika dan astronomi mendirikan observatorium lainnya di Samarkand.

  • Periode keempat (1450 – 1900 M)

Periode ini merupakan masa penurunan ilmu astronomi Islam. Tidak ada penemuan astronomi yang berarti dan penting selain pendirian observatoriun astronomi di Istanbul oleh Al-Din bin Ma’ruf. Masyarakat hanya menerapkan penemuan-penemuan para ilmuwan sebelumnya. Meskipun begitu, kejayaan peradaban Islam telah menyumbangkan karya-karya besar di bidang astronomi. Tercatat bahwa terdapat lebih dari 10.000 lebih naskah astronomi Islam yang tersebar ke seluruh dunia.

Berikut ini merupakan astronom Islam :

  1. Al – Fazari

Abu abdallah Muhammad bin Ibrahim al-Fazari (meninggal 796 M atau 806 M) adalah seorang filsuf, matematikawan dan astronom  Muslim. Ia banyak menterjemahkan buku-buku sains ke dalam bahasa Arab dan Persia. Ia juga merupakan astronom muslim pertama yang membuat astrolobe, alat untuk mengukur tinggi bintang. Ia pernah mendapat tugas untuk menterjemahkan ilmu angka dan ilmu hitung, serta ilmu astronomi India yang bernama Sindhind atau Sidhanta, oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Al-Fazari ilmuwan pertama yang menemukan astrolab.

  1. Al khawarizmi

Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-847 M) muncul pada abad ke-8 setelah al-Fazari sebagai ketua observatorium al-Makmun. Dengan telaahnya terhadap hasil karya al-Fazari, al-Khawarizmi adalah orang pertama yang berhasil mengolah sistem penomoran India menjadi dasar operasional ilmu hitung dan penyusun tabel trigonometri (daftar logaritma) seperti yang ada sekarang ini. Terciptanya sistem pecahan desimal sebagai kunci terpenting dalam pengembangan ilmu pasti juga berkat penemuan angka 0 (nol) India oleh al-Khawarizmi.  Selain itu al-Khawarizmi menemukan kemiringan zodiak terhadap ekuator sebesar 23,5° dan memperbaiki data astronomis pada buku terjemahan “Sindhind”. al-Mukhtashar fi Hisabil Jabr wal Muqabalah” dan ”Suratul Ardl” adalah dua buku penting karya al-Khawarizmi yang banyak diikuti dalam bidang ilmu astronomi Islam.

  1. Abu Ma’syar

Abu Ma’syar di Eropa dikenal dengan nama Albumasyar adalah penemu adanya pasang naik dan pasang surut air laut sebagai akibat pergerakan bulan terhadap bumi. Dua bukunya yang terkenal adalah “al-Madkhal al-Kabir” dan “Ahkam al-Sinni wa al-Mawalid”.

  1. Al-Biruni

Ahli astronomi yang satu ini, turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya dan membuat daftar data lintang dan bujur tempat di permukaan bumi. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.

  1. Al-Battani

Nama lengkapknya adalah abu Abdullah Muhammad bin Jabir Sinan Al-Battani al-Harrni al-Sabi. Al-battani merupakan generasi penerus Al-Fargani dalam melakukan observasi-observasi astronomi pada sebuah observatium yang dibangun oleh al-Ma’mun.

Al-Batanni banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Ia juga merevisi orbit bulan dan planet-planet.

Al-Battani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru. Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah al-Zij al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad. Buku karyanya yang lain adalah Makrifat Mathali’in Nujum dan Ta’dil Al Kawaib.

  1. Ibnu Yunus

Mempunyai karya yang berjudul ”Zaijul Kabir al-Hakim” berisi tentang data astronomis matahari, bulan dan komet serta perubahan titik equanox.

Dari teropong bintang di Gunung Al-Mugaththam, Ibnu Yunus meneropong dua kali gerhana matahari, yaitu pada tahun 977 dan tahun 978 M. Pada tahun yang sama dia juga meneropong gerhana bulan dan mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam tabel astronominya.

Ibnu Yunus menghitung kecondongan daerah gugusan bintang-bintang dengan tingkat ketelitian yang sangat mengagumkan. Karena hasil peneropongan Ibnu Yunus yang tepat, maka para astronom Barat pada masa sekarang mengambilnya dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menghitung gravitasi bulan.

Ibnu Yunus menemukan bandul jam mendahului seorang ilmuwan Itali, Galileo, enam ratus tahun sebelumnya. Mereka mempergunakannya untuk mengukur waktu ketika sedang melakukan peneropongan bintang karena lebih akurat dari pada jam mesin yang telah banyak digunakan pada masa itu.

Ibnu Yunus adalah penemu Bandul (ayunan) yang berguna untuk mengetahui deti-detik waktu ketika seseorang sedang meneropong benda angkasa. Fungsi bandul ciptaan Ibnu Yunus hampir serupa dengan bandul pada jam dinding. Karya Ibnu Yunus ini telah dikenal 6 abad sebelum Galileo Galilei menemukan pendulum (1564-1642). Ibnu Yunus juga menemukan Rubu Berlubang (Gunners Quadrant), sebuah alat untuk mengukur gerakan bintang.

  1. Al-Farghani

Nama lengkapnya Abu’l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Ia merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi. Buku ini memberi pengaruh kuat pada dunia Barat dan banyak diterjemahkan ke dalam bernacam bahasa, termasuk ke dalam Spanyol oleh de Sevilla (John of Seville) dan Gerard Cremona pada tahun 1135 M, dan juga ke dalam beberapa bahasa yang lainnya. Dia juga bekerja di observatorium di Bagdad dan berhasil membuat jadwal apogee (Apogeum) dan perigee (Perigeum) masing-masing planet dengan sistem koresponden episikel ke dalam eksentrisitas dan elip-elip yang terdapat dalam astronomi modern.

  1. Al-Sufi

Orang Barat menyebutnya Azophi. Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman As-Sufi. Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia merupakan ilmuan pertama yang meletakkan jadwal secara detil bintang-bintang yang terbit. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari.

Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Al-Sufi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya.

  1. Jabir Ibn Aflah

Jabir Ibn Aflah adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa Spanyol yang ikut memberi kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. dia adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala yang mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Jabir bin Aflah adalah astronom Muslim pertama di Eropa yang membangun observatorium Giralda. Observatorium ini terletak di kota kelahirannya, Serville. Adapun karya astronominya antara lain buku berjudul The Book of Astronomy. Dalam buku tersebut, Jabir dengan tajam mengkritik beberapa pandangan dan pikiran astronom Ptolemaeus, terutama pendapat yang menyatakan bahwa planet-planet lebih dekat dengan bumi daripada dengan matahari.

  1. Ulugh Beg

Ulugh beg adalah seorang ilmuan Samarkand yang memiliki teropong paling besar kala itu. Ia mencatat maklumat tentang perbintangan bekerjasama dengan para ilmuan pertama, menciptakan dasar-dasar yang mendetil tentang perbintangan di Samarkand secara umum yang tidak mungkin pernah ada ditemukan dalam naungan tujuh perubahan iklim yang semisal itu berupa keindahan, kedudukan dan nilainya. Peneropongan yang ia lakukan berlangsung dari tahun 1327 M – 1435 M dan dari peneropongan ini telah menghasilkan almanak sempurna yang diberi nama almanak perbintangan Ulugh beg atau sultan. Ia menetapkan tempat-tempat bintang dengan detil dan teliti, begitu pula dengan gerhana matahari dan bulan. Ia membuat jadwal perbintangan yang paten, pergerakan matahari dan bulan serta bintang-bintang.

Para astronom muslim membuat klasifikasi musim; musim semi, panas, gugur, dan musim dingin dengan tanda-tanda zodiak yang dikaitkan dengan orbit matahari. Bahkan lebih dari itu astronom muslim saat itu sudah menciptakan instrumen-instrumen yang mendukung reset astronomi. Diantaranya yang terkenal adalah astrolabe, walaupun namanya berbau Yunani, alat ini dikembangkan oleh orang Islam dan kenyataannya tidak ada astrolabe Yunani yang masih tersisa. Astrolabe Islam mulai dibuat pada awal sejarah Islam dan selama ribuan tahun terakhir seni astrolabe sering memadukan seni yang indah sekali dan sangat berguna yang begitu penting bagi para navigator sebelum zaman modern. Begitu pula dengan kompas sangat bermanfaat untuk menentukan arah mata angin.

Para ilmuan muslim telah mengetahui banyak tentang bumi berbentuk bulat dan gerakannya mengitari matahari, dengan bukti-bukti dan argumentasi yang kuat. Al-Mas’udi mengatakan dalam Marwaj az-Zahab wa Ma’adin, bila matahari berada di ujung negeri Cina, maka ia akan terbit di ujung Cina. Itu adalah sepenuhnya lingkaran bumi. Sementara itu asy-Syarif al-Idris menyebutkan dalam bukunya Nuzah al-Musytaq bahwa bumi itu bulat seperti bulatan bola. Dari keterangan ini jelaslah kiranya bahwa para ilmuan muslim telah menemukan bola bumi dan perputarannya mengelilingi matahari sebelum ditemukan oleh Copernicus (878-955 H).

Di Bait al-Hikmah para ilmuan Muslim mengukur dengan sangat teliti lingkaran bumi pada masa khalifahan al-Ma’mun, dari dinasti ‘Abbasiyyah. Hasil kalkulasi mereka menunjukkan lingkaran bumi ini adalah 41.248 kilometer. Sedangkan angka ukuran lingkaran bumi yang diketahui sekarang adalah 40.070 kilometer. Dari sini jelas bahwa angka yang dicapai oleh pada ilmuan Muslim mendekati angka sebenarnya yang dihitung berdasarkan komputer dan satelit yang bekerja dengan sinar merah.

Perhitungan lain dalam bidang astronomi yaitu tentang jarak dan ukuran benda langit. Jarak yang terdekat antara bumi dengan bintang yang terdekat adalah 25 juta mil dan ukuran bintang sebagian besar menyamai ukuran matahari, bahkan lebih panas dan besar atau paling tidak menyamai ukuran matahari.


Daftar Pustaka

 

Assirjani, raghb.2012.Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia.Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Azhari, susiknan.2007.Ilmu Falak, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. Yogyakarta : Suara Muhammadiyah.

Khazin, muhyiddin.2005.Kamus Ilmu Falak.Yogyakarta: Buana Pustaka.

Munawir, ahmad Warson.2002.Kamus Al-Munawir.Surabaya: Pustaka Progresif.

Sugono, dendy.2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Pusat Bahasa.

http://falak-mania.blogspot.co.id/

http://news.dakwahmedia.net/2016/06/04/mengungkap-hikmah-dan-rahasia-rukyatu/

http://rumahbuku.weebly.com/bangku-iii/astronomi-dan-perkembangan-islam

http://versesofuniverse.blogspot.co.id/2012/12/para-ilmuwan-astronomi-muslim.html

http://www.kompasiana.com/jemilfirdaus/studi-perkembangan-ilmu-pengetahuan-astronomi-islam-klasik_5528730b6ea8346e238b4604

https://randyfransfela.blogspot.co.id/2012/12/perkembangan-astronomi-islam.html?m=1

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s