Semester 4 · Tugas Kuliah

ANALISIS PENGELOLAAN PENDIDIKAN DALAM NOVEL LASKAR PELANGI

TUGAS

PENGELOLAAN PENDIDIKAN

“ANALISIS PENGELOLAAN PENDIDIKAN DALAM NOVEL LASKAR PELANGI”

logo_warna copy

Disusun Oleh  :

Dea Tita Hastika

(20158300219)

Dosen Pengampu  :

Andy Ahmad, M.Pd.

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

STKIP KUSUMA NEGARA

JAKARTA

2017

1. Identitas Buku

  • Judul             :  Novel Laskar Pelangi
  • Penulis         :  Andrea Hirata

 

2. Kaitan Pengelolaan Pendidikan dalam novel Laskar Pelangi

Kegiatan dalam sistem pendidikan nasional secara umum meliputi dua jenis yaitu pengelolaan pendidikan dan kegiatan pendidikan. Pengelolaan pendidikan berasal dari kata manajemen, sedangkan istilah manajemen sama artinya dengan administrasi ( Oteng Sutisna:1983). Dapat diartikan pengelolaan pendidikan sebagai upaya untuk menerapkan kaidah-kaidah adiministrasi dalam bidang pendidikan. Pengelolaan pendidikan meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengembangan.

Laskar Pelangi merupakan novel karangan Andrea Hirata yang berbentuk pengalaman realita namun ditambahkan dengan beberapa cerita fiksi. Dalam novel ini, dapat tergambarkan bagaimana bentuk pendidikan di Indonesia.

Daerah Belitong adalah salah satu daerah yang tertinggal yang tepatnya di Desa Gantong, masyarakatnya sebagian besar berpenghasilan dari melaut. Mereka lebih memilih anaknya untuk membantu perekonomian keluarga dibandingkan bersekolah. “Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan.” (Hal. 24)

Dari beberapa tokoh Pendidikan mempunyai gagasan untuk  mendirikan sekolah dasar dengan tujuan untuk mencerdaskan anak-anak di desa tersebut, namun kendala-kendala yang dihadapi sangat banyak antara lain , tentang  bangunan dan sarana  prasarana sekolah, jumlah siswa yang terbatas, tenaga pendidik dan kependidikan, biaya operasional sekolah, belum lagi masalah kurikulum, tetapi bagi ketiga tokoh pendidikan tersebut bukan merupakan halangan untuk dibukanya sekolah Dasar yang  berbasis islamik yaitu SD Muhammadiyah gantong.

Dalam pengelolaan pendidikan, demi tercapainya tujuan pendidikan, saat ini pemerintah tengah berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan kita dengan berbagai cara. Mulai dari peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20%, pengadaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) hingga perbaikan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi. Namun, dari beberapa pandangan dan juga menurut pandangan saya, lulusan dari sekolah-sekolah yang ada di kota-kota besar ataupun mereka yang merupakan lulusan dari sekolah dengan fasilitas pendidikan yang cukup lengkap, seakan kurang mampu berbicara banyak dibandingkan dengan mereka yang merupakan lulusan dari sekolah-sekolah pedalaman seperti dalam novel Laskar Pelangi. Hal ini seakan-akan membuat tanda tanya besar, mengapa sekolah dengan fasilitas yang serba kekurangan, mampu menghasilkan lulusan yang produktif dibandingkan dengan lulusan dari sekolah-sekolah yang notabene mempunyai fasilitas yang lebih lengkap?

Pengelolaan pendidikan meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengembangan. Dalam novel laskar pelangi, kegiatan perencanaan pendidikan dilakukan di SD Muhammadiyah Gantong, yang hanya terdiri dari 10 orang murid dan 1 orang guru serta 1 orang kepala sekolah. Proses belajar mengajar pun dilakukan didalam kelas yang sewaktu-waktu akan rubuh. “Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan”. Jangankan menggunakan berbagai fasilitas seperti internet, laboratorium, dan sebagainya, untuk buku pelajaran saja mereka tidak punya. Mereka hanya mengandalkan metode ceramah yang diberikan oleh Bu Mus ataupun Pak Harfan. Bahkan ketika berangkat ke sekolah pun, mereka tidak mengenakan seragam seperti anak-anak sekolah di kota-kota besar, dan juga bangunan yang mereka tempati pun tidak bisa dipakai seharian tetapi mereka harus rela bergantian kelas dengan siswa lain. “Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore untuk SMP Muhammadiyah.” (Hal. 20)

Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K.” (Hal. 20)

Pada kegiatan pengorganisasian, sekolah Muhammadiyah ini hanya memiliki 1 guru dan 1 kepala sekolah saja. Untuk memenuhi proses belajar mengajar setiap harinya, mereka hanya berdua mengabdi pada sekolah tersebut.

Namun, satu kelebihan dari para siswa dan pengajar pada sekolah tersebut adalah semangat dan motivasi. Motivasi ini penting meskipun sekolah menerima murid dari orang tua yang memiliki keragaman motivasi dalam menyekolahkan anaknya. “Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orang tua mendaftarkan anaknya disini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun, para orang tua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapat pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah manapun.” (hal. 4).

Motivasi pertama menjadikan sekolah ini memiliki siswa yang beragam, baik kondisi fisik dan mental namun kondisi ekonominya sama yaitu keluarga miskin.  Karena orang tua yang beragam menjadikan sekolah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun, para orang tua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Strategi pembiayaan ini penting bagi  keterbukaan akses pendidikan untuk orang miskin. Keterbatasan ini ditopang dengan motivasi nomer 2 menjadikan sekolah bisa mempertahakan eksistensinya. Disamping guru yang peduli, kepala sekolah juga sangat perhatian pada siswanya.

Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal “guru” yang sesungguhnya yaitu orang yang tidak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya. Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap kami penuh arti dengan pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak Melayu yang paling berharga.” (hal. 24).

Dalam mengelola sekolah tersebut, sikap guru dan kepala sekolah yang care menjadikan tugas mereka tidak semata-mata mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya. Keseimbangan peran guru dan kepala sekolah semacam ini bisa membentuk siswa yang seimbang antara perkembangan IQ, EQ dan SQ. “Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaiakan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh kedalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.” (hal. 24)

Adanya motivasi dan semangat dalam diri siswa SD Muhammadiyah, membuat mereka terpacu dan selalu bersungguh-sungguh dalam belajar. Kesungguhan belajar mereka terbukti dengan kemenangan mereka saat lomba kecerdasan melawan sekolah negeri dan sekolah PN. “Hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimana pun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan yang kuat untuk mencapai Cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Siapa pun tak pernah membayangkan sekolah kampung Muhammadiyah yang melarat dapat mengalahkan raksasa-raksasa di meja mahoni itu, tapi keinginan yang kuat, yang kami pelajari dan petuah Pak Harfan sembilan tahun yang lalu di hari pertama kami masuk SD, agaknya terbukti. Keinginan kuat itu telah membelokkan perkiraan siapa pun sebab kami tampil sebagai juara pertama tanpa banding. Maka barangkali keinginan kuat tak kalah penting dibanding cita-cita itu sendiri.

Selain itu, dalam pengelolaan pendidikan terdapat kegiatan pengawasan sebagai fungsi pengelolaan yang berhubungan dengan usaha pemantauan kinerja agar kinerja tersebut terarah dan tidak melenceng dari aturan yang sudah ditetapkan dan pemantauan berfungsi sebagai media agar kinerja tersebut terarah dan tersampaikan secara tepat. Namun, sekolah Muhammadiyah ini sama sekali tidak mendapat pengawasan bahkan terhiraukan oleh birokrasi pendidikan. “Sekolah Muhammadiyah tak pernah dikunjungi pejabat, penjual kaligrafi, pengawas sekolah.” (Hal. 18)

Dapat teranalisis, manajemen dari segala komponen Sekolah Muhammadiyah tersebut mulai dari kurikulum yang dilaksanakan hanya berdasarkan pada penekanan hati nurani, keiklasan dalam pengabdian dan dedikasi satu guru dan kepala sekolahnya. Untuk komponen siswanya, kondisi siswa Sekolah Muhammadiyah sangat kekurangan murid, terbukti mulai dari kelas 1 sampai kelas 9 hanya berjumlah 10 siswa,dan mereka dari keluarga miskin.maka perlu metode pendekatan bagi guru untuk dapat memotivasi siswanya. Dari segi standar pendidik dan tenaga kependidikan, sekolah Muhammadiyah tidak memenuhi standar karena hanya mempunyai satu guru dan kepala sekolah, sedangkan staff atau bagian tata usaha tidak ada, semua yang menyangkut administrasi dilaksanakan oleh guru atau kepala sekolah langsung.

Sarana dan prasarana di Sekolah Muhammadiyah Gantong pun sangat minim dengan bangunan gedung  dari papan , dengan atap seng yang sudah sebagian bocor , serta meja kursi dan peralatan lain yang sangat memprihatikan ditambah tidak adanya buku pelajaran, namun dengan semangat yang tinggi dari guru, kepala sekolah dan siswanya, maka sekolah tersebut tetap melaksanakan proses belajar mengajar. Dari segi pembiayaan, sebagian besar orang tua murid tergolong miskin, karena berasal dari buru tambang dan nelayan sehingga untuk membayar biaya sekolah pun tidak mampu, hanya semangat dan dedikasi yang tinggi serta keikhlasan dari guru dan kepala sekolah tersebut anak-anak bisa mengikuti proses pembelajaran baik dikelas maupun diluar kelas.

Menurut analisis yang saya lakukan, kunci keberhasilan dalam menghasilkan lulusan yang bermutu, bukan hanya terletak pada seberapa lengkap fasilitas pendidikan yang tersedia, akan tetapi terletak pada tenaga pendidik yang dalam hal ini guru dan juga peserta didik itu sendiri. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena, peranan tenaga pendidik dalam meningkatkan semangat peserta didik untuk terus mencari ilmu merupakan salah satu kunci utamanya. Ketika seorang pendidik mampu membangkitkan semangat peserta didiknya untuk terus mencari ilmu, akan timbul kesadaran dalam diri peserta didik untuk terus belajar dan belajar.

Seperti dalam novel Laskar Pelangi, meskipun dengan banyaknya kekurangan terutama dalam hal fasilitas pendidikan, anak-anak Laskar Pelangi mempunyai semangat yang tinggi untuk terus belajar demi meraih cita-cita mereka dan juga tidak terlepas dari peranan sang guru yang selalu memberikan motivasi kepada peserta didiknya untuk terus belajar dan belajar demi meraih cita-cita. Hal ini terbukti dari dedikasi dan semangat guru, siswa, orang tua dalam novel laskar pelangi ternyata sekolah tersebut dapat menjuarai dalam lomba cerdas cermat dan juara karnaval dalam rangka peringatan hari Proklamasi.

Oleh karena itu, menurut saya fasilitas bukanlah hal yang utama dalam menghasilkan lulusan yang bermutu. Meskipun tidak bisa dipungkiri, fasilitas pendidikanpun menjadi salah satu faktor dalam menghasilkan lulusan yang bermutu. Semuanya terletak pada seberapa besar kemampuan pendidik dalam membangkitkan semangat belajar kepada siswa. Ketika pendidik telah mampu membangkitkan semangat kepada peserta didiknya untuk terus belajar, peserta didik tersebut akan semakin termotivasi untuk terus belajar dan belajar. Dan ketika semua peserta didik telah tumbuh semangat belajarnya, tujuan luhur yang dicita-citakan negeri ini seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa” dapat terwujud dan cita-cita agar bangsa ini menjadi bangsa yang maju bukan suatu hal yang tidak mungkin terwujud.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s